Share of my interest…

Cerita-cerita ringan untuk untuk kita semua…

Mod: CBR turbo

Searching2 di internet tentang Honda CBR turbo modifikasi, menemukannya sulit sekali +susah. Padahal Honda lah yang merintis turbo bike pada era motor modern dengan CX500 lalu CX650, as usual pabrikan jepang lainnya mengikuti dengan XJ650 turbo (Yamaha), XN85 650cc (Suzuki), ZX750 turbo (kawasaki). Walaupun memang teknologi forced induction sudah digunakan dari jaman dahulu dengan Motor grand prix BMW yang menggunakan Supercharger. Tapi tetap saja di era motor modern, motor jepanglah yang menjadi patokan superbike (Ducati terlalu mahal😀 ). Akhir dari motor berturbo tidaklah happy ending, Honda tidak mampu menjual motor turbonya sehingga produksi dihentikan setelah honda CX650 diproduksi selama setahun.

honda-cx650-turbo-2

Sekarang ini malah banyak sekali motor berturbo yang berupa modifikasi. Terutama Hayabusa yang bisa di “pompa” sampai 500dk. Jika saya mencari Honda CBR berturbo, maka saya hanya menemukan sedikit sekali. Salah satunya CBR900fireblade.

cbr900

cbr9004sJuga CBR1000F:

honda2Jika dalam negeri sendiri, maka ada beberapa modifikasi motor turbo. Seperti salah satu komentator diblog kafemotor yang memiliki FU-turbo (turbo toyota starlet), dimajalah otomotif FU (turbo+karbu Daihatsu charade), Mio (turbo daihatsu charade), dll… Mungkin anda punya motor berturbo atau ber supercharger??😀

April 22, 2009 Posted by | Honda CBR series | Tinggalkan komentar

Final Fantasy 7 Crisis Core

One of the best Final Fantasy! Setelah kekecewaan yang cukup mendalam dengan Final Fantasy X, Final Fantasy X-II, dan Final Fantasy XII karena kurangnya perasaan AMAZED yang dihasilkan oleh Final Fantasy tersebut. Pengalaman Final Fantasy saya dimulai dari FF9 dan mundur ke FF 8 dan FF 7 baru kemudian maju ke FF 10,FF 10-2, dan FF 12. Bagi saya FF di PS2 merupakan penurunan, apalagi FF12 yang bahkan tidak membuat saya bernafsu menamatkan gamenya. Apalagi ditambah dengan Final Fantasy Dirge of Cerberus yang mempunyai pola gameplay mendekati annoying. Despite that permainan FF saya maju terus, setelah mendapat PSP akhirnya saya bisa bermain FF7 CC. Dan Final Fantasy akhirnya bisa kembali membuat saya menarik napas dalam, dalam kata lain BREATH TAKING. Walaupun memang belom bisa mengembalikan MAJESTYC feeling yang saya dapatkan di FF9, tapi overall game ini LUAR BIASA..

zack

2 unforgetable moment adalah pertarungan sepiroth diatas meriam-mako Shinra dan kematian Zack yang keduanya didukung sound yang luar biasa.  Apalagi Zack mampu membuat saya lebih menyukainya daripada Cloud, karena saya lebih suka cowok yang sedikit “berani” terhadap wanita. Hahaha….😀 Sejujurnya saya lebih menyukai Cisnei dari Turks daripada Aeris, apalagi pada roulette mode saya paling senang ketika mendapat Cisnei karena lebih menguntungkan. Sayang pada FF7 versi PS1 Cisnei hilang tak berbekas….

Sebagai FF-fans saya senang sekali SquareEnix mampu membuat saya bersemangat kembali terhadap FF series. Semoga saja tulisan “continued in Final Fantasy VII” pada ending crisis core benar-benar berupa remake FF7 untuk PS3.  Mungkin berikutnya saya kan bahas tentang FF13 yang trailernya sangat menjanjikan mengembalikan salah satu kesukaan saya terhadap FF yaitu feeling majestyc.😀 Yah, let’s wait en see.

April 10, 2009 Posted by | Game Console | Tinggalkan komentar

Ichigo (Strawbery) 100% by Kawashita Mizuki

Salah satu manga love story (+ecchi , please don’t forget this part😀 ), in my opinion salah satu cerita terbaik sepanjang yang saya ketahui. Cerita utamanya adalah laki-laki yang mengejar impian menjadi director film (pretty big dream I guess..) dengan bumbu wanita “high class”. mungkin ada yang ngasih pendapat love storynya lebih utama. Well, gak salah juga kok tapi saya tetep berpendapat yang menjadi dasar cerita adalah perjalanan impian sang tokoh utama pria yaitu Manaka.

toujo-nishino

Journey start di roof-top sekolah izumisaka middle school, Manaka bertemu wanita yang memenuhi “imajinasi”nya. What kind of imagination? Read it and you will find out😀 . Dimulai dari sana dan kesalah-pahaman yang luar biasa (dan bodoh), the story begin. Tokoh utama wanita pada dasarnya ada 4 yaitu Toujo, Nishino, Satsuki , dan Yui. Tapi Satsuki dan Yui oleh sang mangaka lebih banyak diset sebagai wanita “selingan”, apalagi Yui yang hanya sekedar “numpang lewat”. Pada cerita true love dari tokoh utama pria sebenarnya adalah Toujo,  tapi di akhir cerita Manaka malah tidak memilih Toujo. Menurut pendapat saya sih ini adalah cerita paling berani, jika saya keliling ke forum-forum yang membahas ending Ichigo, rata-rata pembaca tidak puas dengan ending dari ichigo100%.  Bahkan ada penggemar yang membuat ending sendiri dengan mengambil dan mengedit potongan-potongan manga aslinya!!!

nishino1

Wanita yang dipilih  di akhir cerita adalah Nishino.  Dimulai dari kesalah-pahaman, sampai putus, cemburu, bikin film, wisata “berdua”, sampai ending. Nishino adalah salah satu karakter wanita favorit saya di manga (juga Rin Tohsaka di fate Stay Night , mungkin nanti FSN akan saya bahas juga). Mungkin karena salah satu sifat yang saya sukai dari wanita, yaitu sedikit bersifat “ratu”😀 . Salah satu moment favorit saya dapat dilihat pada gambar yaitu saat Nishino menunjukkan innocent face-nya…Hehhe.. Kawai nee…. Tapi jika saya memilih wanita dari Toujo-Nishino-Satsuki (mungkin kalo yang seneng “chibi” akan memilih Yui ya? hehehe) maka saya akan memilih Satsuki.😀

innocent-nishino-face

Karena sang mangaka adalah wanita, sedikit banyak karakter cowok tidak terlalu cocok dengan dunia nyata. Contoh pada saat satu ruangan kamar mandi hotel bersama Satsuki yang totally naked, udah “dikasih” juga masak gak dimakan??? Tapi secara general sih gambaran cowok pada manga ini cukup baik walaupun terlalu naif dan polos (Hari gini ada cowok polos??? Weleh-weleh…).

Conclusion bagi saya ini adalah manga love-story and ecchi yang terbaik. Laki-laki tidak akan memilih wanita karena murni cinta…. Well, itu sih pendapat pribadi, dari pengalaman pribadi😀 . Tentu cerita anda-anda sekalian akan berbeda. Yang pasti saran saya berusahalah setia, kecuali pacar anda tidak setia… 😀

April 8, 2009 Posted by | Anime / Manga | Tinggalkan komentar

Honda CBR400 “Bahan”

CBR400 J-Type 1988 (Busettt, sama pas saya lahir…)

Well, asal usul sih ni motor beli dari bengkel modifikasi. Saya perkirakan sih awalnya dijual untuk limbahnya, tapi konsumen beli satu motor full untuk diperotoli. Tapiii, mesin nyala…. Penawaran 15 juta tentu tidak bisa dilewatkan, walaupun tidak untuk dikendarai. Tapi feeling memiliki moge tetap saja menyenangkan. Sekarang keadaan cukup parah karena tidak ada uang untuk membenarkan. Masih menabung little by little.  Moga2 liburan ini bisa memanfaatkan tenaga adik-adik yunior untuk “membantu” membenarkan. Aminn..

Teknologi yang diusung… Untuk sekelas motor gede  jelas teknologi moge ini sangat “katrok”. Silahkan melihat spesifikasinya sekilas dibawah. Link untuk manual bisa didownload di http://www.manualz.info/paginas/manuals/honda.htm (sudah ditutp, tapi jika dicari masih banyak situs yang memberikan manual CBR400 gratis) . Untuk pembahasan lebih dalam, saya kira suatu saat nanti. Setelah motor ini bisa berjalan normal dan bisa dikendarai (siapa tau sirkuit, maybe?)

Sekarang yang utama ditargetkan adalah mesin hidup dan pengecekan komponen internal engine. Mungkin sekaligus sand blast jika sempat.

honda20cbr400rr2087

Make Model

Honda CBR 400RR

Year

1987

Engine

Liquid cooled, four stroke, transverse four cylinder, DOHC, 4 valve per cylinder.

Capacity

399

Bore x Stroke

55 x 42 mm

Compression Ratio

11.3:1

Induction

4x 26mm Flat-side CV

Ignition  /  Starting

Transistorized  /  electric

Max Power

59 hp  @ 12500 rpm

Max Torque

6.44 kg-m  @ 10000 rpm

Transmission  /  Drive

6 Speed  /  chain

Front Suspension

Telescopic forks adjustable preload.

Rear Suspension

Showa gas/oil shock with adjustable preload and compression

Front Brakes

2x 275mm discs 4 piston calipers

Rear Brakes

Single 220mm disc 2 piston caliper

Front Tyre

120/60-17

Rear Tyre

150/60-18

Dry-Weight

162 kg

Fuel Capacity

14.5 Litres

Januari 15, 2009 Posted by | Honda CBR series | Tinggalkan komentar

Suzuki Shogun 125 SP

Spesifikasi:

Dimensi:

Panjang keseluruhan : 1.911mm

Lebar keseluruhan : 705 mm

Tinggi keseluruhan : 1.072 mm

Jarak antara as roda : 1.240 mm

Jarak mesin ke tanah : 146 mm

Berat kendaraan : 99 kg

Tinggi tempat duduk : 755 mm

Mesin:

Jenis : 4 langkah, SOHC

Sistem pendinginan : Pendingin udara

Jumlah silinder : 1 (satu)

Diameter silinder : 53,5 mm

Langkah piston : 55,2

Kapasitas silinder : 124,1 cc

Perbandingan kompresi : 9,5 : 1

Daya maksimum : 10,8 Ps / 8000 rpm

Torsi maksimum : 1,1 Kg-m / 6500 rpm

Karburator : Mikuni VM 18 SS

Saringan udara : Elemen kertas

Sistem starter : Engkol

Sistem pelumasan : SALCS (Suzuki Advanced Lubrication and Cooling System)

Transmisi:

Kopling : Manual plat majemuk tipe basah

Transmisi : 4 percepatan

Arah perpindahan gerak : 1 ke bawah, 3 keatas

Rantai penggerak : 100 mata

Rangka:

Rangka : Under bone

Suspensi depan : Teleskopik, per spiral, peredaman oli

Suspensi belakang : Lengan ayun, per spiral, peredam oli

Sudut setir : 45° (kanan dan kiri)

Rem Depan : Cakram, hidrolis

Rem belakang : Cakram, hidrolis

Ukuran ban depan : 70 / 90 – 17 M/C 38P

Ukuran ban belakang : 80 / 90 – 17 M/C 44P

Sistem Listrik:

Sistem pengapian : Suzuki DC-CDI (digital)

Busi : NGK C 6 HS / ND U20FS-U

Accu : 12V (2,5 Ah) / 10 Hour

Kapasitas:

Tangki bahan bakar : 4,5 L

Tangki oli mesin

-Penggantian : 800 ml

-Pembongkaran : 1000 ml

Sumber: Brosur Suzuki Shogun 125

Spesifikasi pribadi:

-Ban : Lungsuran CBR 150 R

Depan : IRC eagle grip, 80 / 90 – 17 M/C 44P (Tubeless)

Belakang : IRC eagle grip, 100 / 80 – 17 M/C 52P (Tubeless)

– Filter udara : Dilepas

Suzuki Shogun 125 SP 2006

H 6898 BL

Motor yang paling mendekati sempurna dalam pandangan gw dalam kelas bebek selain Honda Supra Fit S. Kenapa gw gak pilih Honda aja?? Karena sejatinya ini motor untuk riset gw, karena dikampus cuma diberi ilmu teoritis aja dan hubungannya sebagian besar merupakan manufaktur. Balik kenapa gak memilih Honda, karena:

  1. Tampang udah oke, gak perlu modif lagi.

  2. Harga second-nya jatuh (gw beli second hand).

  3. Dengan umur kira-kira setahun masih dapat yang bagus.

  4. Well, belum ada Sonic RS125 CKD plus sangat murah… Kalau ada sih jelas langsung meminang Sonic..

Untuk pilihan Jupiter atau Vega? Gw Cuma suka mesinnya kalau udah dibore-up jadi 125cc (sebetulnya gw ada rencana bwt bikin jadi Shogun130SP.. Hehehe….). Tapi untuk sementara ini aja cukup..

Ni motor sih belum ada 4 bulan ditangan gw, dulu pas beli masalah utama adalah “mberebet”. Gigi 1-2-3-4 alias di semua percepatan. Biasa, paling setelan udara.. Gw setel sendiri malah kacau, sempet ketemu yang lumayan, tapi habis itu gw setel lagi.. Malah tambah hancur… Gw liat filter udaranya, udah kotor… langsung ganti… Masih “mberebet”. Malah nambah masalah yaitu kalo belok pasti ngegas sendiri, akhirnya ganti kabel gas, gw bandingin sih ada 3mm beda panjang.. Itu mah banyak Banget!! Pantes aja mau ditaruh disana kek, disini kek tetep aja ngegas sendiri kalo belok… Terus cek akinya, mati… Distroom di rumah sesuai petunjuk… Nyala, gak lama lagi mati… Langsung ganti (nyatanya mahal juga lo akinya…).

Karena gw udah “enek” nyetel gak ketemu2 yang enak, akhirnya bawa ke bengkel deket rumah. Setelah disetelin, okelah… Walaupun masih agak “mberebet”. Gak puas, bawa kebengkel Suzuki.. Servis sekalian ganti oli en filter oli… Habis servis gw bawa keliling kota. Gigi 1-2 oke, bisa sampai 60kpj… Gigi 3-4 “mberebet”.. Buset dah!! Mberebet kok Cuma gigi 3 sama 4 (gigi 2 sedikit banget), kalo gini sumbernya gak bisa ditebak.. Besoknya gw bawa servis lagi (gratis kok…), akhirnya (setelah menunggu agak lama, kira2 1jam… Lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan untuk 1 motor servis) solusinya adalah dilepas filter udara… Udah seminggu ini normal (lagi tes irit2an nih..).

Kalo tesis gw sih karena ada semacam “gap” disisi sayap kanan motor yaitu pada lubang kunci dan pemasangan bodi yang tidak bisa pas… Waktu kecepatan diatas 60kpj, angin yang melewati sayap menjadi bertekanan rendah. Nah tekanan itu pas berada di lubang masuk filter udara sebelah kanan. Saat filter dilepas, hisapan udara menjadi lebih kuat… Jadinya “mberebet” hilang.. Resikonya (lepas filter) sih kecepatan rendah menjadi tidak enak karena campuran jadi terlalu miskin.

Ternyata sehari setelah motor jadi normal. Baut penahan kabel koplingnya lepas. Buset dah, untuk hari pertama gw pasang sendiri sekalian nyetel sendiri karena setelan dari mekanik Suzuki sangatlah pendek alias kepanjangan “spelleng” (jarak main bebas).. Bener2 memusingkan menyetelnya. Setelah 1 malam memikirkannya akhirnya gw mengerti mekanismenya.. Setelah mencoba lagi, belum bisa juga gw… Masih belum jelas, jika gak ada spelengnya motor tidak bisa. Tapi kalo ada spelengnya jaraknya terlalu pendek, menetralkan susah, bahkan jika kopling ditarik maksimal roda masih berputar, jika digas walaupun sudah menarik kopling maksimal roda belakang akan ikut berputar kencang (sekali!!). Setelah berpusing-pusing ria semalaman.. Gw nyetel lagi hari berikutnya.. Dapet!! Yes… Walaupun kasus yang roda ikut berputar walaupun dikopling full masih ada.. Tapi untuk menetralkan sudah enak..

Akhirnya gw ngerti kenapa temen2 gw yang punya Suzuki (satriaF, Satria 2tak jenis terbaru, Satria 2 tak lama) koplingnya sangat pendek… Yah, resikonya kampas kopling cepet aus kalo lama2 masuk gigi diem plus geber2.. Dan gigi rasio cepet rontok. Tapi toh 95% kita riding adalah perjalanan normal (kecuali macet tentunya). Jadi tidak sedramatis itu lah… BTW, mesin shogun itu halus banget ya?? Padahal kilometer lumayan tinggi…

Untuk masalah body sih, banyak banget minusnya.. Slebor depan udah dilubangin untuk menceperkan tunggangan, sepertinya udah pernah jatuh lalu dipylok sekenanya, jok ada bolong kecil, minus tool box, spion shogun biasa. Masalah spion udah beli spion khusus SP… Lama banget, nunggu 2,5 minggu baru ada (pesen tentunya)…

Masalah kaki2 ini yang membuat gw merasa paling beruntung. Pertama masuk ke showroom motor second (setelah mencari di sekitar 10 showroom), ada ni motor.. Overall masih oke.. Setelah gw cek velg belakangnya, eh kok peyang (banget).. Terus masnya bilang, udah ganti aja sama kaki motor yang itu (sambil nunjuk shogunSP lain yang terondolan, kayaknya bekas untuk balapan liar), gw cek velgnya.. Hum, masih okelah.. Akhirnya beli juga deh motor bwt riset gw…

17 Agustus 2007

Lagi tes irit2an nih. Kemaren (sekitar 3 hari yang lalu) diisi Rp 15.000,- premium, diisi sampai full. Sekarang sih udah mencatai 87 km baru satu strip turun… Tapi jangan seneng2 dulu, biasanya habis itu turunnya dramatis (bukan drastis aja)… Makanya bener2 nunggu sampai mengisi Rp 15.000,- berikutnya. Untungnya sih tangki Shogun SP gak ada yang aneh seperti di tangki Honda Tiger. Kalo di Honda Tiger ada semacam “kotak” putih, mungkin fungsinya untuk reserve bensin. Dari full sampai 70% akan lama turunnya, tapi kalau sudah 70% akan cepat sekali penurunan indikatornya (bukan berarti boros lo…).. Kira2 sampai 35% baru kembali lambat jarum indicator bensinnya… Masalah tangki CBR sih gak ada reserve, jadi gak mengalami seperti itu…

Last word, motor ini udah dijual 1 tahun yang lalu.. Project berindah ke CBR150.

Agustus 18, 2007 Posted by | Suzuki Shogun 125 SP | 27 Komentar

Tiger2000

Spesifikasi:

 

Panjang : 1990 mm

Lebar : 740 mm

Tinggi : 1035 mm

Jarak sumbu roda : 1330 mm

Jarak rendah ketanah : 145 mm

Berat kosong : 125 Kg

Tipe rangka : Rangka pipa pola berlian

Tipe suspensi depan : Garpu teleskopik

Tipe suspensi belakang : Lengan ayun, peredam kejut “Heavy Duty” dapat disetel pada lima posisi

Ukuran ban depan : 2.75-18 42 P

Ukuran ban belakang : 100/90-18 56 P

Rem depan : Rem cakram hidraulis, kaliper dengan piston ganda

Cairan rem : Caltex break fluid

Rem belakang : Rem teromol, digerakkan tangkai

Kapasitas tangki bahan bakar : 13 liter (cadangan 4,3 liter)

Jenis mesin : 4 langkah, SOHC, pendingin udara

Susunan silinder : Silinder tunggal, sudut kemiringa 15° dari vertikal

Diameter x langkah : 63,5 x 62,2

Volume langkah : 196,9 cm³

Perbandingan kompresi : 9,0:1

Daya maksimum : 17,8 ps / 8500 rpm ( 13,1 kW/ 8500 menit^(-1) )

Torsi maksimum : 1,6 kg.m / 7000 rpm ( 16,5 N.m/ 7000 menit^(-1) )

Penyetelan rantai mesin : otomatis penuh dengan pegas volut

Kapasitas minyak pelumas : 1,2 liter pada pembongkaran mesin

1,0 liter pada penggantian periodik

Minyak pelumas mesin : Federal Oil Superior Formulation

Kopeling : Basah, pelat majemuk

Transmisi : 6 kecepatan, bertautan tetap

Pola pengeropasian gigi : 1-N-2-3-4-5-6, digerakkan kaki kiri

Sistem pengapian : CDI, jenis AC

Alternator : 0,13 Kw/ 5000 menit ^(-1)

(12V – 9A)

Kapasitas baterai : 12V – 7Ah

Busi

-Standar : ND X24 EP-U9, NGK DP8EA-9

-Kecepatan rendah (busi panas) : ND X22 EP-U9, NGK DP7EA-9

Sistem starter : Pedal kick starter dan starter listrik

Motor starter listrik : 0,7 kW

 

Sumber: Buku Pedoman Pemilik Tiger2000

 

Kelebihan:

– Torsinya besar banget, enak untuk harian di Semarang. Gak ngos-ngosan bwt tanjakan

– Nyaman.. Gak bikin cepat pantat panas, 1 jam baru kerasa.. Kalo enjoy ridingnya gak kerasa kali ya?? (mis: keluar kota, mudik)

 

Kekurangan:

– Gak bisa fast corner, tapi stabil kok.. (yah… Bukan motor balap sodara2, ini small bike buat daily use atau touring…)

– Udah kuno?? Yah, udah sampai ganti Tiger Revo sih… Cuek ah… Emang naik motor harus selalu keren (dimata orang lain)??

 

Masalah-masalah selama 3,5 tahun:

 

– Dari bak kopling ada suara ‘kletek-kletek-kletk’ kalau kopling ditekan.

– Sudah 2 kali overheat. Kalau hampir overheat ditambah tanjakan atau akselerasi mendadak ada suara ‘tek-tek-tek’ dari silinder mesin.

– Ban depan yang godek, setelah kemaren dicek sih ternyata udah peyang dikit.

– Jok yang mulai “kempes”. Temen gw sampe ngomong gini “joknya kamu tipisin ya mas??”

– Lampu reting sebelah kiri belakang yang mengelupas, serta plastiknya yang pecah.

– Tangki yang “dekok”.

– Cat ditangki dan dibodi yang lecet.

– Bodi dan lampu belakang tidak simetris dengan roda belakang.

– Getaran yang berlebih, tapi lama2 biasa juga sih.

– Grip gas yang sangat kendur.

– Kabel kopling yang nabrak slebor depan kalau mengerem keras (kalo ngerem keras, rem belakang gak main banyak…), sampai2 ada “kawah” di slebor depan gara2 kabel kopling…

 

Beberapa keuntungan dari Tiger gw:

– Biasanya produksi tahun 2003 mengalami kebocoran tangki, tapi tiger gw tidak mengalaminya sama sekali.

– Pacar gw jarang protes kalau naik ini… Kalau naik CBR ada protesnya kalau jalan agak jauh…

 

Part2 yang sudah pernah diganti:

– Kabel kopling (2x)

– Kabel gas (1x)

– Kabel choke (1x)

– Kampas rem belakang (1x)

– Kampas rem depan (1x)

– Ban luar depan (1x)

– Ban dalam belakang (1x)

– Ban luar belakang (1x)

 

Tempat servis: Motor Cahaya Baru, AHASS 1936, Jl. Tentara Pelajar No. 74, Telpon (024) 8316148-49, (Mrican) Semarang. (Tapi akhir bulan Agustus ini mau pindah…)

 

Honda Tiger2000 2003 ( 2003 akhir… Banget…)

H 6238 NG

 

Well, kalo ni motor mau diceritain satu2 bakal panjang banget deh. Soalnya ni motor kenangan gw selama hidup di SMA 5 Semarang (sejak kelas satu akhir), masih berlanjut sampai kuliah sekarang. Walaupun gak ada cerita yang sangat dramatis-romantis-artis-sinis-sadis etc dah. Tapi ini sesuatu yang membuka wawasan gw terhadap dunia motor.. Semuanya bermula dari Tiger ini.. Yah walaupun banyak fisik yang tidak sempurna dari ni motor, contoh: buntut belakang tidak simetris terhadap roda belakang, lampu yang miring kira2 10°, lampu reting kiri belakang yang mengelupas cat-nya dan pecah plastiknya, dll lagi setelah 3,5 tahun bersama.

 

Masalah mesin sih, untuk riding harian di Semarang semacam sekolah, kuliah, atau jalan2 pasti ½ perjalanan turunan atau tanjakan.. Dan torsi Tiger sangatlah cukup untuk mengakomodir keadaan jalan semarang tanpa harus bejek gas macam CBR 150 R kalau mau melibas tanjakan. Dulu sih pernah diganti dengan knalpot “gede”, terus akhirnya kembali Standar (waktu udah inden CBR). Yah, at least itu ngajarin gw kalo knalpot macam gitu gak nyumbang apapun (kecuali gaya, tapi cewek2 banyak yang gak suka lo.. Ribut nya itu lo… Kalo saran gw sih, kalo gak korek mesin mending pakek cover knalpot ketimbang pakai knalpot aftermarket..). Karena pas kembali knalpot standar kerasa banget RPM atas lebih jalan, suaranya juga lebih mantap knalpot standar. Loh.. Kok jadi bahas knalpot?? Untuk reliability-nya sangatlah hebat… Walaupun ada komponen2 yang memang bermasalah, tetap bisa jalan normal… Kecuali kalau kabel2 macam kabel gas atau kabel chuck sih, jelas gak bisa jalan…

 

Masalah stabilitas-pun masih mantap, walaupun akhir2 ini kalau lepas stang pasti “godek”. Tapi walaupun begitu gw pernah nyoba lepas stang total di turunan Gombel (kira-kira 1,5 kilometer dengan tikungan tidak terlalu tajam) dari atas sampai bawah (ya iyalah, masak turunan dari bawah keatas??).. Hmmm… No problem at all…

 

Ejekan yang masih gw inget bener sih…

Temen gw : “Ihhh (dia agak bencesss (banci) emang..), spionnya ijik Dungo (masih berdo’a), dilepas satu kek…

Gw : (bingung mo jawab apa… La wong gw suka kayak gini… Apalagi gw lebih suka yang safe en gak belang2)

Gw : *(jawab dengan seenak udel)* “gak boleh dilepas sama orang tua….”

Temen gw : (dalem atinya… Ni orang anak mami bener!!!)

 

Wekekeke… Gak tau deh, Me don’t know en Me don’t care…

 

15-16 Agustus 2007

 

Well, 2 hari ini motor gw gak ada dirumah… Lagi diopname di AHASS… Sebetulnya gw sudah meminta mengerjakan “masalah-masalah” diatas, tapi baru sebagian.. Yang ilang kayak:

  • Suara dari bak kopling.

  • Jok yang tipis. (ditebelin lagi)

  • Lampu reting (diganti)

  • Yang masalah mesin kedua (yang “tek-tek-tek”) belum gw cek…

 

BTW, ada cerita pas diAHASS, mending baca http://kafemotor.wordpress.com/2007/08/16/inikah-kejutan-ahm-yang-sebenarnya-tertunda/ . Gw tulis lengkap…

 

Agustus 18, 2007 Posted by | Tak Berkategori | 5 Komentar

Honda CBR 150R

Spesifikasi:

Engine : 4 Stroke, DOHC 4 Valves, Liquid Cooled

Cylinder Capacity : 149.4 CC.

Bore x Stroke : 63.5 x 47.2 mm.

Compression Ratio : 11: 1

Engine Start Type : Electric Start

Ignition : CDI DC

Sparking Plug : CR8E (NGK) or U24ESR-N (DENSO)

Transmission : 6 Speeds

Clutch Type : Wet, Multiple Disks

Gear Ratio * : 1 3.038

2 1.941

3 1.500

4 1.227

5 1.041

6 0.923

Gear Ratio Primary / Last : 3.260 / 2.933

Dimension (W x L x H) : 652 x 1,910 x 1,065 mm.

Wheel Base : 1,286 mm.

Ground Clearance : 172 mm.

Seat Height : 776 mm.

Caster / Trail Space : 25 Degree / 88 mm.

Dry Weight : 115 Kgs.

Suspension Front : Telescopic

Suspension Rear : Monoshock

Brake Type Front : Disc Brake, Disc Plate Size 276 mm.

Brake Type Rear : Disc Brake, Disc Plate Size 220 mm.

Tyre Size Front : 80 / 90 – 17 M/C 44P (Tubeless)

Tyre Size Rear : 100 / 80 – 17 M/C 52P (Tubeless)

Battery : MF Size 12 V. – 5 Ah

Fuel Tank Capacity : 10 Liters

Fuel Type : Unleaded Gasoline Octane 91 Up

Catatan:

*Sori, gw gak bisa dapet Gir Ratio yang berupa jumlah gigi sentriknya, baru dapet perbandingannya..

Speksifikasi pribadi:

Oli : Mobil1 SAE 10/40 1 liter

Servis : Oleh diri sendiri, tapi AHASS bisa kok…

Ban Depan : Bridgestone Battlax BT 39 90/80 – 17

Ban Belakang : Bridgestone Battlax BT 45 130/70 – 17

Top-speed : 135km/jam (sementara ini, sebetulnya pernah nyentuh 140kpj sih…)

CBR 150 R 2005

H 2772 R

Motor kesayangan gw. Desainnya sih turunan dari CBR 600 F4. Gw udah menunggu punya motor ini kira-kira 2 tahun dari pertama liat di majalah. Setelah 1,5 tahun punya Tiger akhirnya ada tanda2 orang tua gw mau beliin ni motor.. Akhirnya bakal kesampean juga bakal punya ni motor.. Wuhui!! Waktu itu gw kira warnanya hitam-kuning, ternyata yang asli berwarna hitam-orange, bukannya nyesel malah tambah naksir gw. Bapak sih nyaranin warna item-merah, Ibu malah Silver-item (kayaknya ni warna kesukaan wanita ya???). Tapi gw tetep keukeuh dengan Hitam-Orange. Setelah inden, pasang saklar lampu dan menunggu dikirim ke semarang ( Oh ye.. Belinya di Handara Rona Cemerlang di Surabaya.. Waktu itu bapak gw kerjanya di Surabaya.. Jadi sekalian.. ). Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan menunggu motor datang, menunggu faktur, memasukkan ke kepolisian, dan mendapat STNK, akhirnya BPKB ditotal menunggu 1,5 bulan (STNK), 2 bulan (BPKB). Phewwww… Lama bener ya.. Gak papa deh.. Yang penting puas..

Pernah bapak gw nyoba ni motor, tanggapan pertama “ni motor ringan banget ya..”. Iye.. BTW, Tiger gw juga dibilang gitu.. Kalo mo yang berat beliin CBR1000RR atau GSX1000K5/K6/K7 atau APRILIA RSV1000R factory edition gak papa… Wekeke…

Masalah performa en keawetan silahkan dibaca ceritanya. Waktu Pulang kampung (tahun 2006) setelah kira2 setelah sekitar 4 tahun keluarga gw gak pulang kampung gara2 tuntutan kerja, sekalian hadiah ulang tahun bapak gw yang berupa boleh naik motor ke Magelang (kalo ibu gw pinginnya sekeluarga bareng2 naik mobil). Maka gw latah pingin naik motor juga. Sekalian nambah jam terbang, pernah paling jauh ke daerah Bantir (sekitar 1 jam perjalanan dari Semarang) dengan naik bebek atau mobil.. Karena bapak gw suka turing makanya gw disuruh ngikutin dibelakangnya.. Oh ye…. Motor bapak gw Harley Davidson Night Train 2003 ganti exhaust en filter udara aftermarket (kalo gw liat setelannya masih kacau, tapi kata mekaniknya sih gak papa, kalo diubah lagi malah gak ada larinya katanya..). Pas jalan udah halus dan macet yang tinggal sedikit, RPM paling minimal dipanteng sekitar 9000rpm untuk ikut menyalip, dan selalu geber semaksimal mungkin kalau tidak mau ketinggalan, dan memang tidak terlalu ketinggalan. Hasilnya konsumsi bensin mencatat 28km/ liter pulang pergi. Boros ya??? Ya begitulah kalo nurutin orang tua yang naik Harley Davidson dan sebetulnya juga rajin ngebut sih.. Wekeke.. Makanya pulangnya gw emoh ngikut lagi… Pingin enjoy ridingnya, alias pingin nyantai aja.. Walaupun kadang gas pol juga seh.. Yang pasti pulang bapak gw langsung pijetan malemnya… Gw?? Gak kerasa apa2 tuh…

16 Agustus 2007

Selama 2 tahun bersama sih gw merasa kekurangan yang paling kentara yaitu rasio gigi 2 yang nanggung.. Jika dari berkendara biasa lalu turun dari gigi 3 ke gigi 2, maka akan terasa sedikit “nyentak”.. Kalo gw tebak sih gara-gara ni motor semi racing. Makanya gigi 2 dibuat lebih kuat engine brakenya. Oh yeee.. Kalo dari ngebut sih engine brake sampai gigi 2 mulus banget… Back to topic, nah biasanya di balapan, kalau mau melibas corner yang bukan berupa rolling speed (alias agak patah) biasanya menggunakan gigi2. See the connection?? Toh sudah tidak terlalu menganggu karena ini sudah jadi motor weekend yang selalu digas habis.. BTW, akhir2 ini gw selalu weekend karena kuliah masih libur.. Jadi setiap hari selalu ngegas ni CBR.. Yup.. Hampir tiap hari gw gas habis di daerah yang sepi, kalo pas macet sih pelan2.. Ngapain?? Mau mati cepet atau bikin orang lain kecelakaan??

Masalah kecelakaan, 2 hari (14 Agustus 2007, Selasa) yang lalu pacar gw kecelakaan di daerah tembalang. Yang nabrak cowok yang “sok” kebut2an. Di perempatan dengan gayanya yang “sok” hebat ngambil sebelah kanan, langsung motong ke kiri. Padahal ada pacar gw lagi ditengah jalan, gw perkirakan sih nyenggol ban depan motor pacar gw. Lebih “sialan” lagi tu orang gak berhenti atau minta maaf tapi langsung bablas. BANCI abis dah pokoknya… Pacar gw jatuhnya wajah dulu, kaca helm pecah, hidung berdarah, pipi bengkak, yang gw paling khawatir dia pusing2…

17 Agustus 2007

Mumpung gak ada kerjaan nih gw buka2 majalah otomotif lama yang judulnya. Upgrade Honda CBR150R-Modal ngebut 190Kpj… Ada 5 langkah, misal ada yang nggak punya sekalian gw tulis disini aja ya (juga catatan tambahan dari gw, walaupun mungkin gak penting). Oh ye… Langkah2 ini stylenya cuma P’N’P alias plug and play, jadi masih belum extreme dan layak untuk harian.

1)Knalpot

Knalpot standar CBR 150 R sebetulnya sudah dilengkapi katalisator untk menekan emisi gas buang. Jadi bisa diganti dengan merek Endurance atau Yosimura. Kalau Endurance lebih enak putaran bawah, kalau Yosimura putaran atas.

Well, untuk masalah exhaust ini sih… Kalau memang sudah lebih banyak (udara+bensin) yang masuk dan limit rpm meningkat maka memang sudah wajib ganti. Tapi untuk urusan mesin standar mending gak usah ganti knalpot, karena kalau belinya gak bagus cuma bikin putaran atasnya “ngempos” karena nggak ada tendangan balik dari knalpot. Sayangnya saya tidak bisa menjelaskan secara teknisnya, tapi itu diperlukan untuk harian sebagai peningkat torsi pada rpm tinggi…

2)Karburator

Karburator standar CBR merupakan karbu vakum yang memerlukan isapan dari piston untuk membuat karet skepnya tertarik dan terangkat. Makanya kadang membuat lelet, untuk itu disarankan diganti dengan Keihin PWK 28 yang venturinya masih sebesar CBR standar, kan disini temanya P’N’P. Filter udara dilepas. Dan pakai gas spontan.

Catatan saya:

  • Dimajalah sudah ada yang melakukan pembesaran porting sebanyak 2mm, jadinya Keihin PWK-nya juga sudah direamer menjadi 30mm… Pendapat gw sih kalau mau lebih bisa tuh… Toh di moge Honda 599 (versi harian CBR600R) memakai keihin injeksi 34mm TIAP SILINDER… Tapi diameter pistonnya 67mm (CBR 150R 63,5mm). Sayangnya gw buka situs http://www.sudco .com tidak ada karbu PWK, ataupun PE yang berukuran 31mm. Tapi toh untuk harian cukup itu saja…

  • Lebih baik pakai gas spontan, soalnya untuk full throttle pelintirannya terlalu dalam, kadang malah saya menggeser tangan untuk full throttle.

3)Pengapian

Masalah CDI racing sih ada pilihan merek Shindengen atau Direct dari Thailand… Kalau yang standar dibatasi sampai 10.500rpm. Tapi CBR gw bisa 12.000rpm sih baru mberebet. Kalau yang dari Thailand bisa mencapai 13.500. Pilihan local ada dari BRT.

4)Kopling

Kalau dimajalah sih kopling dimodifikasi. Peredam karet kopling dilepas lalu pegas penekan diganjal 3mm.

Komen gw sih emang CBR setengahnya berbasis kendaraan harian, jadinya kopling (jika standard dan belum disetel) memang jarak mainnya panjang… Tujuannya sih untuk setengah kopling mungkin… Toh waktu Marco Melandri ke Indonesia dan ngajarin balap ke pembalap Indonesia. Ada salah satu pembalap yang belajar, “saya baru belajar kalau sebetulnya kopling gak usah ditekan penuh…”. Kalau gw saran sih jangan dilakukan… Cepet rusak bro…

5)Final gear

Ini untuk rider yang seneng top-speed ketimbang akselerasi. Rasio gir diperberat 1 sampai 1,5. Misalnya pakai 15/44 dengan rantai ukuran 428, atau dengan ukuran 14/40 dengan ukuran rantai 415

No comment untuk yang ini…

6)Porting dan Polishing *(tambahan)*

Sumber: Majalah otomotif edisi No.20/XV Senin, 19 September 2005

Agustus 18, 2007 Posted by | Honda CBR series | 19 Komentar